• ISABC

Kearifan Lokal Bisa Jadi Daya Tarik Sektor Wisata Kesehatan Nasional


Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI, Guntur Subagja Mahardika saat memberikan materi pada Webinar bertajuk Making Indonesia a Hub for Global Health Tourism yang diselenggarakan Indonesia-Saudi Arabia Business Council (ISABC) bekerjasama dengan Kadin Indonesia, pada Rabu (29/12/2021).

ISABC.OR.ID-Asisten Staf Khusus Wakil Presiden RI, Guntur Subagja Mahardika mengungkapkan, bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat destinasi wisata kesehatan (health tourism) dunia.


Menurut Guntur, agar bisa sampai pada level tersebut, Indonesia perlu memaksimalkan potensi kearifan lokal sebagai penunjang sektor wisata kesehatan.


“Kita harus memadukan health tourism, medical tourism, dan wellness tourism dalam wisata kesehatan yang lebih luas,” ungkap Guntur dalam Webinar bertajuk Making Indonesia a Hub for Global Health Tourism yang diselenggarakan Indonesia-Saudi Arabia Business Council (ISABC) bekerjasama dengan Kadin Indonesia, pada Rabu (29/12/2021).


Guntur mengakui, bahwa di sektor medical tourism Indonesia masih tertinggal dari tiga negeri jiran yaitu Singapura, Thailand, dan Malaysia, namun Indonesia lebih unggul dari sisi wellness tourism dan health tourism dengan kearifan lokal sebagai nilai tambahnya.


“Wellness tourism ini adalah wisata minat khusus untuk menjaga kebugaran,” ucap Guntur.

Guntur menyebut, setidaknya ada enam potensi wisata kesehatan berbasis kearifan lokal yang dapat menjadi nilai tambah dan daya saing Indonesia di kawasan Asia Tenggara.


“Enam potensi tersebut antara lain meliputi medical, food & nutrition, beauty, sport, nature, dan spiritual & education. Ini harus kita genjont dan kembangkan,” tandas Guntur yang juga merupakan Pembina Insan Pariwisata Indonesia (IPI).


Mengutip data Global Wellness Institute, ekonomi global wellness telah mencapai 4,5 triliun dolar AS. Sementara pasar wisata kesehatan global, menurut Data Bridge Market Research tahun 2020, akan mencapai 269 miliar dolar AS pada tahun 2027.


“Berkembangnya wisata kesehatan Indonesia tentu saja akan memberikan dampak ekonomi besar pada sektor lainnya seperti UMKM, transportasi, kuliner, ekonomi kreatif dan ekonomi kerakyatan lainnya,” ungkap Guntur.


Di samping itu, Guntur menyebut potensi lainnya adalah memberikan nilai tambah layanan halal pada wisata kesehatan, yang saat ini nilai ekonomi halal global telah mencapai 3,2 triliun dolar AS.


“Wisata kesehatan halal ini juga dapat menjadi kelebihan Indonesia, selain nilai tambah kearifan lokal. Masa pandemi ini merupakan momentum yang harus kita maksimalkan untuk bisa melakukan pengembangan wisata kesehatan,” pungkasnya.


Selain Guntur Subagja, webinar ini dihadiri pula oleh sejumlah narasumber seperti Shinta Widjaja Kamdani (Chair B20 Indonesia 2022/Koordinator WKU III Kadin Indonesia), Dr Daeng M Fakih (Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia/IDI), Dr Mukti Eka (Ketua Umum Perkumpulan Dokter Wisata Indonesia/Perkedwi), Ida Ayu Indah Yustikarini (Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Bali), dan moderator adalah Putro S Muhammad selaku CEO Digital Hospital, serta hadir pula Presiden ISABC Muhammad Hasan Gaido.

10 views0 comments